[CERPEN] : "Serakah Sejadah"
Matahari sudah berada tepat diatas kepala, dan aku masih terperangkap didalam kelas di tengah pelajaran matematika. Tak ada tanda-tanda bahwa pak Wahyu akan segera mengakhiri pelajarannya, dan kurasa saat itu keadaanku benar-benar sudah tak ada rupanya. Teman-temanku tak jauh berbeda keadaannya denganku, wajah lesu yang kehilangan gairah, mata berair karena terlalu sering menguap dan tangan yang menopang kepala sebagai usaha agar tidak jatuh tertidur.
Benar-benar mengenaskan.
Ditengah hari yang gerah seperti ini, kurasa kemampuan otakku untuk mencerna dan memahami apa yang disampaikan pak wahyu tadi, sudah habis masa berlakunya, yang ada bukan ilmu yang aku cerna, tapi malah rasa kantuklah yang melanda. Sudah dua jam pelajaran pak wahyu menyampaikan materi, aku bahkan belum shalat dzuhur karena semua ini!. Ujian Akhir semester yang tinggal beberapa minggu lagi, membuat pak wahyu mengajar lebih lama untuk mengejar materi, tapi kurasa ini takkan berhasil, karena kuyakin sebagian besar dari kami, pasti takkan mengerti apa yang dia sampaikan hari ini. Kecuali bagi Sofi, kukira mungkin hanya dia yang akan benar-benar mengerti apa yang sedari tadi pak wahyu jelaskan, anak baru pindahan dari kota itu, semester lalu bahkan mendapat rangking pertama, menggeserkan posisi si jutek Mira yang tak terima dirinya berada di posisi kedua.
Mira Evalia, perempuan cantik dari keluarga berada, dia anak yang pintar, tapi sifatnya yang keras kepala, membuat orang-orang kurang menyukainya. Kepribadiannya yang tak pernah memikirkan perasaan orang, membuat banyak orang sakit hati karenanya. Dia selalu bersikap meremehkan orang lain, seolah baginya tak ada manusia yang bisa melebihi dirinya, benar-benar angkuh !
Dering bel tanda berakhirnya jam pelajaran ke-6 membuyarkan lamunanku, penantian yang ditunggu dari tadi akhirnya datang juga !!!
"baiklah, sebelum pulang sekolah, kalian shalat berjamaah dulu dengan bapa di masjid, awas jangan ada yang kabur, nanti bapa alpa kan ! " ucap pak wahyu sebelum keluar kelas.
Aku membereskan peralatan tulisku, mengambil mukena dari loker kelas yang sudah bobrok dan berjalan menuju masjid sekolah. Suasana masjid saat itu sudah lenggang, siswa-siswa yang biasanya mengantri menunggu giliran shalat berjamaah,sudah membubarkan diri,masjid sekokahku memang berukuran kecil, daya tampungnya benar-benar tidak seimbang dengan jumlah jamaah yang ada, sehingga butuh beberapa kloter agar semua bisa shalat bersama di masjid, dan kurasa, aku adalah kloter terakhir shalat dzuhur berjamaah hari ini. Air wudhu yang mengalir membasuh pipiku, membuatku merasa terlahir kembali, kesejukan yang menyegarkan. Semua rasa kantuk yang beberapa menit lalu menguasaiku, sirna sudah, ikut mengalir bersama air keran kedalam selokan sekolah yang sudah mampat.
Aku masuk kedalam masjid yang baru saja dibereskan. Gulungan sejadah yang biasa tergelar, sudah di simpan kedalam ruang penyimpanan di belakang mimbar, menyisakan beberapa lembar sajadah untuk satu orang. Beberapa temanku memakai sajadah dengan posisi horizontal, agar bisa dipakai oleh dua orang, kecuali Mira. Dengan tamak dia memakai sejadah itu sendiri.
" Mir, sajadahnya bagi dua yah " ucap Sofi pada Mira.
" gak mau ! " ucap mira
" Ayo dong Mir, jangan di pake sendiri sejadahnya ! " ucap Sofi membujuk Mira
"Aku bilang gak mau, ya gak mau ! Kamu shalat nya dilantai aja, gak usah pake sejadah !" ucap Mira keras kepala
" Kamu tuh ya, jadi orang kayak gak akan butuh pertolongan orang lain aja ! Jangan serakah kalau jadi orang ! " Sofi mulai hilang kesabaran
"Iya ! Aku emang gak butuh orang lain !! Aku emang serakah orangnya ! Puas ?! Udah sana pergi, jangan minta bantuan sama orang serakah ! " ucap mira mengusir Sofi.
Emosiku sedikit terpancing saat melihat kejadian itu, tapi aku berusaha untuk tidak ikut campur. Karena aku tahu akan seperti apa akhirnya, Mira memang keras kepala. Seperti yang sudah kuduga.
" Udah Sof, kita ambil gulungan sejadah masjid aja " ucapku pada Sofi
Dengan menggerutu, Sofi meninggalkan Mira dengan sajadahnya dan membantuku menggelar sajadah masjid untuk satu shaf jamaah. Semua sajadah terisi penuh, menyisakan Mira dan beberapa orang dijajaran belakang, dengan selembar sajadah untuk diri mereka masing-masing.
Tak lama berselang pak Wahyu masuk kedalam masjid.
" sudah lengkap semuanya ?" tanya beliau
" sudah pak " kelas ku menjawab kompak.
" kalau gitu kita mulai aja shalatnya " ucap pak Wahyu sambil berjalan menuju tempat imam.
Dia berdiri di samping mimbar dengan wajah yang bingung, seperti sedang mencari sesuatu. Pak Wahyu kemudian berjalan menuju kearah kami dan melongok jajaran belakang, tepatnya ke arah Mira dan sejadahnya. Tanpa permisi Pak Wahyu mengambil sajadah yang dipakai oleh Mira.
" Loh, pak kok diambil ? itu kan punya saya ! " ucap Mira tak terima.
" udah kamu bagi dua aja sama teman kamu, di depan gak ada sejadah, masa imam gak pake sejadah ?" ucap pak Wahyu.
" Ya tapi kan.."
" Udah ah, udah hampir akhir waktu shalat dzuhur nih, kita mulai aja shalatnya, Banyu qomat ! " ucap Pak wahyu sambil berlalu meninggalkan Mira yang berdiri tanpa sajadah.
Aku tersenyum melihat kejadian itu, rasanya, ada kepuasan tersendiri melihat orang serakah mendapatkan balasan atas apa yang telah dia perbuat. Kurasa Allah tak kan membiarkan seorang hambanya yang serakah, merasakan kenikmatan dirumahnya yang suci.
Dan siang itu, Mira akhirnya Shalat tanpa sajadah sebagai alasnya. Aku harap, kejadian siang ini menjadi pelajaran baginya untuk tidak menjadi orang yang serakah.
***TAMAT***
Komentar
Posting Komentar