Bukan Tuhan Tak Mengabulkan, Akunya Yang Salah Berdoa.
Selasa, 20 Februari 2018
22:44 WIB
Gandasari, garut.
Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya aku paham dengan rencana hidup yang telah Tuhan siapkan untuk ku.
Ini bukan bererti aku masih belum move dari kejadian beberapa waktu lalu. Hanya saja, aku ingin memastikan bahwa aku memahami betul dan sudah tak salah paham lagi kepada Tuhan.
Saat itu aku marah pada Tuhan.
Tuhan, apa yang salah?! Aku sudah belajar lebih dari yang pernah aku lakukan sebelumnya, aku juga berdoa padamu lebih dari yang pernah aku lakukan?! Tapi kenapa aku gagal?! Aku bahkan lebih baik dari mereka yang engkau loloskan masuk ke PTN!
Aku marah, marah yang lebih condong pada rasa kecewa pada diri sendiri, tapi manusia memang lemah, aku menyalahkan Tuhan karena menyalahkan adalah hal paling mudah yang bisa manusia lakukan. Aku sadar bahwa aku sangat bodoh, karena dengan seenak jidatnya aku menghakimi, tanpa benar-benar mengerti apa alasan sehingga semua bisa berjalan seperti ini, benar-benar sifat seorang manusia tak tahu diri.
Pada akhirnya aku kuliah di sekolah swasta, sekolah yang namanya bahkan tak pernah aku dengar sebelumnya, dijurusan yang aku tak menyangka aku akan masuk dan memilih jurusan itu. Jurusan yang mengharuskan aku pintar menghitung, jurusan yang membuat ku harus selalu bergelut dengan angka-angka, jurusan yang mengenalkanku pada mata kuliah yang lebih sulit dari matematika.
dan jurusan yang aku maksud adalah, jurusan teknik sipil, dimana populasi kaum hawa bisa dihitung oleh jari dengan jumlah satu angkatan yang tak seberapa.
Sejauh ini, aku tak menyesal kuliah di jurusan teknik sipil, mungkin itu lebih karena sekarang, aku baru memasuki semester 2. Dulu, saat aku sma, ada seseorang yang pernah berkata padaku bahwa saat awal dimana kau mulai menyadari bahwa kau salah jurusan adalah ketika kau sudah memasuki semester 3. Dan yah... melihat betapa sibuknya aku di semester 2 ini (sungguh sangat jauh berbeda ketika aku baru memasuki semester 1 -_-) aku rasa perkataan itu ada benarnya juga.
Tapi, ada saat ketika aku sedang berada di mata kuliah matematika dasar II, mata kuliah dengan dosen tegas yang selalu membuatku sadar bahwa aku sangat bodoh, bahkan lebih bodoh dibandingkan dengan anak nya yang baru duduk di kelas 4 SD. dan dengan pahitnya, aku harus menerima fakta itu. Harus kuakui bahwa dosen ini ada benarnya, dengan semua perkataan tajamnya mengenai kemampuan akademik mengenai anak muridnya yang kebanyakan mengenaskan.
Dan sialnya, karena hal pahit yang diucapkan oleh dosen ini selalu memang berdasarkan dengan fakta yang ada, aku tidak bisa membencinya.
Pernah suatu hari dia membicarakan tentang patokan mengenai benar dan salah, salah satu topik yang menarik bagiku.
"Kalian akan tahu jika suatu hal itu salah, jika kalian tahu bahwa ada hal lain yang benar. Kalian tahu bahwa 1+1 = 4 itu salah, karena kalian tahu bahwa yang benar itu adalah 1+1= 2"
Kemudian kalimat dari dosen ini berputar terus dikepalaku bahkan sampai perkuliahan usai. Dan ketika angkot yang mengantarkanku pulang mengetem sangat lama, aku sempat menulis suatu hal yang akhirnya terpkirkan olehku, jawaban atas pertanyaan yang menghantuiku selama ini...
Bagaimana jika seandainya, ternyata selama ini aku sudah salah jurusan?!
Selasa, 30 januari 2018
12:49 WIB
Di dalam angkot bayongbong.
Suatu saat nanti, dihari aku meras kesusahan dan hilang harapan, aku akan membaca tulisan ini, "aku tidak salah jurusan karena aku bahkan tidak tahu jurusan apa yang benar. Saat ini, aku hanya harus menikmati prosesnya, walaupun sebenarnya aku tahu, 'menikmati' memiliki makna yang sulit dijalani"
Sejak awal, aku sudah mengira bahwa menjadi anak teknik bukanlah hal yang mudah. Mendengar cerita para alumni yang sudah-sudah atau bahkan melihat begitu banyaknya meme tentang kesusahan anak teknik yang bertebran berserakan di dunia maya.
Tapi saat ini aku bersyukur, karena pada akhirnya, aku memilih untuk masuk ke dalam jurusan teknik sipil. Meninggalkan jauh, cita-citaku unuk menjadi seorang guru seperti ibuku dan kakak ku. Sampai akhirnya butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk mengenali diriku sendiri. Kurasa aku memang tidak cocok menjadi seorang pengajar, mengingat aku tak pernah akur dengan yang namanya ank kecil, bahkan dengan adik dan keponakanku sendiri, dan aku bukan orang yang supel, aku bahkan aku tidak pandai membangun relasi dengan orang lain.
Kemudian, secara tidak sadar, dalam kepalaku muncul alasan-alasan mengapa penolakkan PTN terhadap diriku, adalah sebuah hal yang baik untuku.
Pertama, dengan ditolaknya aku dari PTN, aku tidak jadi masuk jurusan keguruan, sehingga aku akhirnya masuk teknik sipil
Kedua, dengan masuknya aku ke jurusan teknik sipil, aku sudah mulai agak berdamai dengan matematika (itu lebih karena aku menemukan mata kuliah yang menurutku lebih melieurkan dari matematika)
Ketiga, beban yang ditanggung oleh ibu dan bapakku sedikit berkurang, karena digarut aku tinggal dengan kerabat dari pihak ibu, dengan fasilitas lengkap, laptop yang bisa aku pinjam dari ponakanku, akses internet gratis dan aku bisa diantar jemput oleh sepupuku.
Keempat, tinggal bersama teh atih, membuatku sering jalan-jalan XD
Kelima, populasi anak perempuan di sipil sangat sedikit, dan ini memudahkanku untuk membangun relasi pertemanan dengan mereka semua.
Keenam, bergaul dalam lingkaran pertemanan yang didominasi oleh laki-laki cukup menyenangkan, no gosip!, yah...walaupun otak mereka kadang agak geser dan selalu menghubungkan segala sesuatu dengan hal yang berbau mesum, tapi kurasa itu masih berada dalam batas kewajaran dalam bercanda dan hal yang normal bagi anak laki-laki -_-.
Aku tak bisa menyebutkan semua alasannya, itu lebih karena aku tak tahu apa lagi yang harus aku tulis, atau karena ku memang sudah terlalu pegal untuk mengetik. Tapi kurasa, alasan-alasan yang aku tulis diatas akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan dirikuyang sedang dalam proses membiasakan diri menjadi seoranga anak teknik.
Tuhan memang selalu benar, inilah jalan terbaik untukku. Aku bisa membayangkan jika seandainya saat itu aku lolos masuk ptn, hidup sendiri dikosan, sebatang kara, tak tahu arah jalan, kesulitan dengan tugas kuliah dan kekurangan fasilitas untuk belajar, pola makan dan tidur yang kacau (kalau ini sekarang juga sudah kacau, tapi setidaknya, jika disini, aku tak perlu repo-repot mencuci dan memasak), melihat gambaran kehidupan yang aku bayangkan jika aku tinggal di bandung membuatku yakin, insyaallah, dengan keadaan seperti itu, minimal, aku mungkin akan mengidap busung lapar.
Dan, ah! satu hal yang harus aku kaji ulang adalah tuntutanku kepada tuhan tentang alasan mengapa?
Tuhan, apa yang salah?! Aku sudah belajar lebih dari yang pernah aku lakukan sebelumnya, aku juga berdoa padamu lebih dari yang pernah aku lakukan?! Tapi kenapa aku gagal?! Aku bahkan lebih baik dari mereka yang engkau loloskan masuk ke PTN!
hahahaha..satu hal yang harus aku sadari, dan aku baru mengingatnya hari ini, saat itu, ketika aku shalat duha, shalat sunah, shalat tahajud, apa yang sebenarnya aku minta kepada Allah?!
hal yang sebenarnya aku pinta kepada Allah saat itu adalah...
"Ya Allah, berikanlah hamba nilai UN matematika yang bagus ya Allah.
Hanya itu yang aku doakan, karena memang matematika inilah yang menjadi momok terbesarku dalam menghadapi ujian nasional.
ahhh... dan sekarang aku menyesal karena semua ibadah yang kulakukan saat itu hanya sebatas untuk mendapatka nilai, dan satu hal yang harus kalian ketahui, semua hasil doaku itu diijabah oleh Allah, nilai matematikaku sangat bagus, benar-benar keajaiban di 10 menit terakhir.
Dan hal yang aku sadari dari tulisanku kali ini adalah, bukan Allah tak mengabulkan, akunya yang salah berdoa.
Komentar
Posting Komentar