[Resensi] Novel "I Want to Die but I Want to Eat Ttokpokki"
![]() |
Judul : I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki
Penulis : Bak Se Hee
Penerbit : Penerbit Haru
Cetakan : Ketujuh, 2020
Jumlah : 236 halaman
Genre : Self Improvement
🌸🌸🌸
Blurb :
Aku : "Bagaimana caranya agar bisa mengubah pikiran bahwa saya ini standar dan biasa saja?"
Psikiater : "Memangnya hal itu merupakan masalah yang harus diperbaiki?"
Aku : "Iya, karena saya ingin mencintai diri saya sendiri"
I Want to Die but I Want to Eat Ttokpokki adalah esai yang berisi tentang pertanyaan, penilaian, saran, nasihat, dan evaluasi diri yang bertujuan agar pembaca bisa menerima dan mencintai dirinya. Buku self improvement ini mendapatkan sambutan baik karena pembaca merasakan hal yang sama dengan kisah Baek Se Hee sehingga buku ini mendapatkan predikat bestseller di Korea Selatan.
🌸🌸🌸
Fyi, tteokpokki itu semacam jajanan kaki lima khas korea selatan, jajanan ini terbuat dari kue beras yang di beri bumbu pasta cabai yang rasanya pedas dan manis, bumbu ini biasa disebut bumbu gochujang, kalo kalian sering nonton drakor, pasti gak bakalan asing dengan makanan yang satu ini.
Terus, apa hubungannya Tteokpokki dengan buku ini? Apa buku ini ngasih resep pembuatan Tteokpokki yang bisa bikin sembuh depresi? Atau, buku ini ngasih resep Tteokpokki yang rasanya enak banget sampe bikin gak jadi bunuh diri karena terlalu sayang buat ninggalin dunia dengan makanan seenak Tteokpokki?
Sejujurnya aku tidak bisa menemukan hubungan tteokpokki dengan isi buku ini, bahkan kurasa jika aku tak salah ingat, buku ini hanya satu kali menyebut ttekpokki dalam kata pengantar Baek Se hee. Saat Se hee merasa sedih dan ingin menangis, saat hatinya merasakan kekosongan, anehnya dia tetap pergi untuk makan tteokpokki karena dia merasa lapar, dan ini cukup aneh, sebuah kondiri perasaan yang campur aduk dan ambigu.
Tetapi, kurasa aku sedikit bisa mengerti alasan Baek se hee menjadikan tteokpokki sebagai judul bukunya, kurasa itu karena rasa percaya yang ia miliki, bahwa meskipun dia tidak mengalami hari yang sempurna, setidaknya dia mengalami hari yang cukup dan baik-baik saja. Dia memiliki kepercayaan bahwa hidup adalah ketika meskipun dia merasa depresi seharian penuh, dia masih bisa tersenyum karena hal-hal kecil sekalipun, dan mungkin tteokpokki adalah salah satu hal yang bisa membuat dia merasa senang.
![]() |
![]() |
"Hanya ada satu aku di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat spesial. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya. Diriku adalah sesuatu yang harus aku bantu dengan perlahan, kutuntun selangakah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik nafas panjang atau terkadang butuh cambukan agar bisa bergerak ke depan. Aku percaya bahwa aku akan menjadi semakin bahagia jika aku semakin sering melihat ke dalam diriku sendiri" Hal. 111
Ini adalah bagian favoritku dalam buku ini. Setelah dari awal buku ini memiliki aura gelap (ya gimana gak gelap, orang buku ini isinya catatan pengobatan pasien distimia) yang berisi semua keluhan depresi jangka panjang Baek Se Hee, akhirnya Baek Se Hee bisa melihat sisi positif atas hidupnya, sesuatu yang patut disyukuri karena itu artinya pengobatannya membuahkan hasil.
Aku tidak heran mengetahui bahwa buku ini menjadi best seller di korea selatan, mengingat kenyataan bahwa korsel memiliki banyak kasus bunuh diri dengan tingat terbanyak didunia, kurasa masyarakat disana juga akan lebih banyak tertarik dengan buku yang mengangkat tema self love karena alasan tadi. Selain itu peran Rap Monster yang merekomendasikan buku ini juga tidak bisa dipungkiri lagi sebagai salah satu penyebab buku ini bisa menjadi lebih populer, kekuatan Kpopers benar-benar tidak usah diragukan lagi :")
![]() |
Masa pandemi yang mengharuskan kita semua untuk mengkarantina diri dirumah sepertinya membuat overthinking dan insecure menjadi hal yang sedang hits-hitsnya dikalangan millenial.
Sering merasa khawatir atas penilaian orang lain terhadap penampilan kita, dan juga menganggap kalau diri kita ini jelek dan tidak menarik dimata orang lain, jika kamu merasa kalau kamu juga merasakan hal sama, berarti kita satu geng :")
![]() |
Aku lebih sering membaca buku "I want to die but i want to eat ttokpokki" diwaktu larut malam saat aku sulit tidur. Biasanya aku membaca untuk mencoba mengalihkan perhatianku agar otak ku tidak terlalu overthinking memikirkan hal yang tidak terlalu penting, dan entah kenapa, saat aku membaca buku ini aku merasa bahwa apa yang dialami baek se hee, aku merasakannya juga.
![]() |
Seolah apa yang ku rasakan diwakili oleh baek se hee, dan jawaban psikiater membuatku merasa bahwa aku yang sedang berkonsultasi. Tapi hanya karena merasa ada banyak persamaan aku bisa mendiagnosis sendiri bahwa aku juga distimia, itu bodoh sekali, karena pada kenyataannya memang apa yang dialami baek se hee juga sangat relate dengan apa yang dialami banyak orang, salah satu alasan lagi kenapa buku ini menjadi best seller.
Aku menyukai buku ini, tapi walaupun begitu, pada beberapa bagian kadang aku merasa tidak paham, cukup sulit untuk bisa menangkap maksud penulis. Ada banyak faktor sih, entah karena buku ini hasil terjemahan jadi bahasa yang dipakai agak baku, apalagi buku ini memang catatan pengobatan seorang pasien atau memang karena saat aku membacanya, aku sedang cape atau tidak mood.
Buku ini ditutup dengan catatan pengobatan baek se hee yang dirasa masih menggantung karena memang pengobatan baek se hee masih berlangsung, dan kabar gembiranya, tahun ini buku "i want to die but i want to eat ttokpokki 2" sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia! Mudah-mudahan aku bisa segera membeli lanjutan buku ini ya :")
Ps. Jika ingin mengambil gambar, tolong tambahkan credit @astitagutri
Terima kasih sudah membaca reviewku
*(walau aku ragu akan ada orang lain yang membaca postingan ini wkwkwkwk. Tapi gapapa, optimis aja biar kayak blogger beneran haha).






Komentar
Posting Komentar