CERPEN [ AZALEA ]
Kau bukan bunga matahari yang bisa selalu setia. Kau juga bukan Dandelion yang pura-pura rapuh padahal sebenarnya tangguh dan kau bukan bunga edelweiss yang selalu abadi. Karena kau mempunyai keistimewaanmu sendiri, walaupun kau tak secantik mawar, walaupun kau tak semewah anggrek, dan walaupun kau tak seindah sakura.
Tapi kau mempunyai pesonamu sendiri, Azalea.
..........
Debur ombak, belaian angin dan hangatnya pasir yang kuinjak melengkapi indahnya senja di tepi pantai petang itu. Aroma laut, menyeruak masuk ke dalam penciumanku, membawa serta deja vu yang tiba-tiba datang melanda diri. Kenangan bersama mu dulu, menggeliat dalam ingatanku.
" Aku ingin menjadi seperti Azalea.. " ucapmu dengan mata menerawang.
Kita berada di taman rumah sakit saat itu, kau masih betah menatap pot bunga Azalea–bunga kesukaanmu yang baru saja berbunga.
" Kenapa ? Azalea bukan bunga yang istimewa.. " tanyaku. Saat itu aku masih belum mengerti kenapa kau begitu menyukai Azalea.
" Kau tahu, tak perlu menjadi istimewa untuk membuat dirimu menjadi berharga. Kadang, kesedehanaan lah yang membuatnya begitu berbeda...dengan keunikannya " jawabmu masih dengan tatapan menerawang, entah apa yang sedang kau pikirkan saat itu.
" Aku tak mengeri apa maksudmu.." ucapku
" Azalea, seperti yang kau tahu, dia tidak seistimewa bunga-bunga lainnya. Tapi, ada satu hal yang membuatku ingin menjadi sepertinya, kau tahu itu apa ?
Aku diam, memberimu kesempatan untuk melanjutkan perkataanmu.
" Kedamaian.." ucapmu dalam satu helaan nafas sambil mengalihkan pandanganmu.
Kau akhirnya menatap wajahku, membaca kebingungan dalam raut mukaku yang sedang berusaha menerjemahkan arti dari balik semua perkataanmu saat ini.
" Kesejukan yang Azalea sebarkan, selalu membawa kedamaian. Dia tetap tumbuh dengan baik walau berada ditanah peperangan...dan aku ingin seperti Azalea. " Kau menatap jauh kedalam bola mataku.
Aku menghela nafas, kurasa sekarang aku mulai mengerti kemana sebenarnya arah dari pembicaraan ini.
" Semua ini tentang perekrutan relawan untuk perang di Suriah kan ?! " tanyaku penuh selidik.
Kau terdiam.
" Kenapa? Apa kau masuk kedalam daftar relawan yang akan dikirimkan ? " Tanyaku menuntut sebuah jawaban.
" ya.." ucapmu lirih.
" Lalu, apa yang akan kau lakukan ? Apa kau akan menerimanya ? Apa kau akan berangkat kesana ?! Lalu bagaimana denganku ? Keluargamu ? Apa kau tega meninggalkan mereka, membuat mereka khawatir akan bahaya yang mengancam anak mereka setiap saatnya ? Apa kau tega melakukakan semua ini ?! " tanpa sadar nada bicaraku semakin meninggi.
" Dina, tenanglah ! Aku melakukannya bukan hanya untuk sekedar memenuhi panggilan tugas saja, tapi semua keinginanku untuk pergi, semuanya berasal dari hati. Kesadaran ku bahwa aku harus menolong manusia-manusia yang terluka tanpa tahu apa salah mereka. Kau tahu bagaimana anak-anak kecil disana meninggal karena ledakan bom dan kurang nya bantuan tenaga medis untuk menolong mereka, jadi kurasa inilah saatnya bagiku untuk mengabdi atas pekerjaan yang telah menjadi jalan hidupku, aku akan pergi ke suriah.. " ucapmu penuh keyakinan. Aku menatapmu dengan pandangan tak percaya, sorot matamu yang penuh keyakinan pada akhirnya meluluhkan hatiku. Aku membiarkanmu pergi dengan janji bahwa kau akan pulang kembali saat tahun berganti nanti.
Musim sudah dua kali berganti, dan kau masih belum kembali untuk menepati janjimu. E-mail yang terakhir kali aku kirimkan padamu dua bulan lalu, belum kau balas sampai saat ini. Entah kenapa, aku merasa benar-benar khawatir dengan keadaan dirimu, tapi aku tak ingin imajinasi menguasai diriku dan membuatku berpikiran macam-macam tentang dirimu, lagipula aku mempunyai cukup banyak jadwal operasi yang harus kutangani, aku tak ingin pikiran negatifku membuyarjan konsentrasi dan membahayakan keselamatan pasienku. Aku berusaha keras untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa saat ini kau hanya sedang sibuk menolong orang-orang yang terluka karena perang aleppo yang sedang berkecamuk disana.
Sampai kemudian sebuah siaran berita membuyarkan semua pikiranku.
Serangan bom Rusia di Perang Aleppo, memakan banyak korban jiwa. Sebanyak 25 warga sipil tewas dan 3 orang relawan WNI meninggal dunia.
Rasanya seperti dunia ini berhenti berputar, dengan perasaan yang kacau luar biasa aku mencoba untuk membaca lebih lanjut berita itu.
Berikut data relawan WNI yang meninggal dunia, akibat dari aksi bom udara yang dilakukan oleh Rusia :
1. Iwan Ferdinudin, 35 tahun
2.nugi anugraha, 29 tahun
3. Rendi alghi ilahi, 27 Tahun
Deg ! Aku tak percaya pada apa yang baru saja aku baca... Bagaimana bisa rendi pergi secepat ini ? Padahal dua bulan lalu, aku masih bisa mendengar suaranya, padahal dua bulan yang lalu aku masih bisa tertawa bersamanya, padahal...dua bulan yang lalu, aku baru saja mengucapkan selamat ulang tahun padanya, padahal...terlalu banyak alasan bagiku untuk membuatku tidak percaya bahwa Rendi sudah pergi. Tapi satu hal yang tidak dapat ku pungkiri bahwa takdir tuhan tak ada yang tahu, apalagi untuk urusan kematian. Perlahan, pandanganku mulai kabur, mataku hilang fokus, sampai akhirnya, hanya gelaplah yang dapat kulihat dan keheninganlah yang dapat kudengar.
...........
Ini adalah hari peringatan setahun kepergianmu, senja ditepi pantai menemaniku mengingat masa lalu bersamamu. Semburat jingga kemerahan mulai menyelimuti langit petang itu, mengantarkan sang surya kembali keperaduannya. Secarik puisi Azalea karya Kim So Wol, menjadi pendampingku senja itu, menjadi saksi rasa sepi yang merasuk menghantui diri. Pada akhirnya kau mengingkari janjimu, kau tak pulang kembali seperti yang telah kau janjikan padaku. Tapi walaupun begitu, aku tahu, kau pergi dengan kebaikan yang telah kau tebar di tanah konfik itu. Kepergianmu mengajarkanku untuk menghadapi rasa sakitnya kehilangan. Dengan kesejukan Azalea, sekarang aku mengerti apa arti dari merelakan, dan makna dari sebuah keikhlasan.
Kini Azalea menjadi bunga yang selalu ku damba, ketika waktu untuk memekarkan kelopaknya sudah tiba, kesukaanmu pada Azalea kini terjelaskan sudah. Dengan kesederhanaan dan makna keikhlasan didalamnya, Azalea memiliki pesona yang tak terkira.
Ketika kau pergi
Lelah atas diriku
Tanpa sepatah kata
Aku harus membiarkanmu
Aku mengumpulkan serangkai Azalea
Dan menebarkannya untukmu
Setapak demi setapak
Dengan lembut mengiringi kepergianmu
Diiringi mentari yang tenggelam di ufuk barat, air mataku mulai mengalir mengenang dirimu. Tapi, Aku sudah berjanji untuk menjadi Azalea yang akan menerima semua kenyataan hidup yang ada. Seperti yang kau katakan saat itu, ucapanmu sebelum kau berangkat ke suriah, menggema dalam hatiku.
" Azalea adalah kesederhanaan yang penuh dengan keiklasan. Dia tak secantik mawar, dia tak semewah anggrek ,dan dia juga tak seindah Sakura. Tapi walau begitu, dia mempunyai pesonanya sendiri. Azalea takkan menyakiti orang lain dengan duri, seperti yang dilakukan mawar. Azalea hidup mandiri sebagai bunga liar, tidak seperti anggrek yang tergantung pada pohon lain. Sebagai bunga liar, Azalea juga tumbuh menjadi menjadi bunga yang kuat, tak seperti bunga sakura yang tak bisa bertahan lama. Itulah Azalea. Kesederhanaan yang bebas, kekuatan menerima apa yang terjadi pada hidupnya dan keindahan yang tak perlu diumbar. Hamparan Azalea akan selalu menjadi penyejuk dikaki pegunungan Yak di Pyongyang. Menjadi kedamaian bagi Korea yang selalu berkonflik dengan saudaranya. Dan kepergianku ke suriah adalah untuk menjadi Azalea yang tidak bisa tumbuh disana..."
Tapi kau mempunyai pesonamu sendiri, Azalea.
..........
Debur ombak, belaian angin dan hangatnya pasir yang kuinjak melengkapi indahnya senja di tepi pantai petang itu. Aroma laut, menyeruak masuk ke dalam penciumanku, membawa serta deja vu yang tiba-tiba datang melanda diri. Kenangan bersama mu dulu, menggeliat dalam ingatanku.
" Aku ingin menjadi seperti Azalea.. " ucapmu dengan mata menerawang.
Kita berada di taman rumah sakit saat itu, kau masih betah menatap pot bunga Azalea–bunga kesukaanmu yang baru saja berbunga.
" Kenapa ? Azalea bukan bunga yang istimewa.. " tanyaku. Saat itu aku masih belum mengerti kenapa kau begitu menyukai Azalea.
" Kau tahu, tak perlu menjadi istimewa untuk membuat dirimu menjadi berharga. Kadang, kesedehanaan lah yang membuatnya begitu berbeda...dengan keunikannya " jawabmu masih dengan tatapan menerawang, entah apa yang sedang kau pikirkan saat itu.
" Aku tak mengeri apa maksudmu.." ucapku
" Azalea, seperti yang kau tahu, dia tidak seistimewa bunga-bunga lainnya. Tapi, ada satu hal yang membuatku ingin menjadi sepertinya, kau tahu itu apa ?
Aku diam, memberimu kesempatan untuk melanjutkan perkataanmu.
" Kedamaian.." ucapmu dalam satu helaan nafas sambil mengalihkan pandanganmu.
Kau akhirnya menatap wajahku, membaca kebingungan dalam raut mukaku yang sedang berusaha menerjemahkan arti dari balik semua perkataanmu saat ini.
" Kesejukan yang Azalea sebarkan, selalu membawa kedamaian. Dia tetap tumbuh dengan baik walau berada ditanah peperangan...dan aku ingin seperti Azalea. " Kau menatap jauh kedalam bola mataku.
Aku menghela nafas, kurasa sekarang aku mulai mengerti kemana sebenarnya arah dari pembicaraan ini.
" Semua ini tentang perekrutan relawan untuk perang di Suriah kan ?! " tanyaku penuh selidik.
Kau terdiam.
" Kenapa? Apa kau masuk kedalam daftar relawan yang akan dikirimkan ? " Tanyaku menuntut sebuah jawaban.
" ya.." ucapmu lirih.
" Lalu, apa yang akan kau lakukan ? Apa kau akan menerimanya ? Apa kau akan berangkat kesana ?! Lalu bagaimana denganku ? Keluargamu ? Apa kau tega meninggalkan mereka, membuat mereka khawatir akan bahaya yang mengancam anak mereka setiap saatnya ? Apa kau tega melakukakan semua ini ?! " tanpa sadar nada bicaraku semakin meninggi.
" Dina, tenanglah ! Aku melakukannya bukan hanya untuk sekedar memenuhi panggilan tugas saja, tapi semua keinginanku untuk pergi, semuanya berasal dari hati. Kesadaran ku bahwa aku harus menolong manusia-manusia yang terluka tanpa tahu apa salah mereka. Kau tahu bagaimana anak-anak kecil disana meninggal karena ledakan bom dan kurang nya bantuan tenaga medis untuk menolong mereka, jadi kurasa inilah saatnya bagiku untuk mengabdi atas pekerjaan yang telah menjadi jalan hidupku, aku akan pergi ke suriah.. " ucapmu penuh keyakinan. Aku menatapmu dengan pandangan tak percaya, sorot matamu yang penuh keyakinan pada akhirnya meluluhkan hatiku. Aku membiarkanmu pergi dengan janji bahwa kau akan pulang kembali saat tahun berganti nanti.
Musim sudah dua kali berganti, dan kau masih belum kembali untuk menepati janjimu. E-mail yang terakhir kali aku kirimkan padamu dua bulan lalu, belum kau balas sampai saat ini. Entah kenapa, aku merasa benar-benar khawatir dengan keadaan dirimu, tapi aku tak ingin imajinasi menguasai diriku dan membuatku berpikiran macam-macam tentang dirimu, lagipula aku mempunyai cukup banyak jadwal operasi yang harus kutangani, aku tak ingin pikiran negatifku membuyarjan konsentrasi dan membahayakan keselamatan pasienku. Aku berusaha keras untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa saat ini kau hanya sedang sibuk menolong orang-orang yang terluka karena perang aleppo yang sedang berkecamuk disana.
Sampai kemudian sebuah siaran berita membuyarkan semua pikiranku.
Serangan bom Rusia di Perang Aleppo, memakan banyak korban jiwa. Sebanyak 25 warga sipil tewas dan 3 orang relawan WNI meninggal dunia.
Rasanya seperti dunia ini berhenti berputar, dengan perasaan yang kacau luar biasa aku mencoba untuk membaca lebih lanjut berita itu.
Berikut data relawan WNI yang meninggal dunia, akibat dari aksi bom udara yang dilakukan oleh Rusia :
1. Iwan Ferdinudin, 35 tahun
2.nugi anugraha, 29 tahun
3. Rendi alghi ilahi, 27 Tahun
Deg ! Aku tak percaya pada apa yang baru saja aku baca... Bagaimana bisa rendi pergi secepat ini ? Padahal dua bulan lalu, aku masih bisa mendengar suaranya, padahal dua bulan yang lalu aku masih bisa tertawa bersamanya, padahal...dua bulan yang lalu, aku baru saja mengucapkan selamat ulang tahun padanya, padahal...terlalu banyak alasan bagiku untuk membuatku tidak percaya bahwa Rendi sudah pergi. Tapi satu hal yang tidak dapat ku pungkiri bahwa takdir tuhan tak ada yang tahu, apalagi untuk urusan kematian. Perlahan, pandanganku mulai kabur, mataku hilang fokus, sampai akhirnya, hanya gelaplah yang dapat kulihat dan keheninganlah yang dapat kudengar.
...........
Ini adalah hari peringatan setahun kepergianmu, senja ditepi pantai menemaniku mengingat masa lalu bersamamu. Semburat jingga kemerahan mulai menyelimuti langit petang itu, mengantarkan sang surya kembali keperaduannya. Secarik puisi Azalea karya Kim So Wol, menjadi pendampingku senja itu, menjadi saksi rasa sepi yang merasuk menghantui diri. Pada akhirnya kau mengingkari janjimu, kau tak pulang kembali seperti yang telah kau janjikan padaku. Tapi walaupun begitu, aku tahu, kau pergi dengan kebaikan yang telah kau tebar di tanah konfik itu. Kepergianmu mengajarkanku untuk menghadapi rasa sakitnya kehilangan. Dengan kesejukan Azalea, sekarang aku mengerti apa arti dari merelakan, dan makna dari sebuah keikhlasan.
Kini Azalea menjadi bunga yang selalu ku damba, ketika waktu untuk memekarkan kelopaknya sudah tiba, kesukaanmu pada Azalea kini terjelaskan sudah. Dengan kesederhanaan dan makna keikhlasan didalamnya, Azalea memiliki pesona yang tak terkira.
Ketika kau pergi
Lelah atas diriku
Tanpa sepatah kata
Aku harus membiarkanmu
Aku mengumpulkan serangkai Azalea
Dan menebarkannya untukmu
Setapak demi setapak
Dengan lembut mengiringi kepergianmu
Diiringi mentari yang tenggelam di ufuk barat, air mataku mulai mengalir mengenang dirimu. Tapi, Aku sudah berjanji untuk menjadi Azalea yang akan menerima semua kenyataan hidup yang ada. Seperti yang kau katakan saat itu, ucapanmu sebelum kau berangkat ke suriah, menggema dalam hatiku.
" Azalea adalah kesederhanaan yang penuh dengan keiklasan. Dia tak secantik mawar, dia tak semewah anggrek ,dan dia juga tak seindah Sakura. Tapi walau begitu, dia mempunyai pesonanya sendiri. Azalea takkan menyakiti orang lain dengan duri, seperti yang dilakukan mawar. Azalea hidup mandiri sebagai bunga liar, tidak seperti anggrek yang tergantung pada pohon lain. Sebagai bunga liar, Azalea juga tumbuh menjadi menjadi bunga yang kuat, tak seperti bunga sakura yang tak bisa bertahan lama. Itulah Azalea. Kesederhanaan yang bebas, kekuatan menerima apa yang terjadi pada hidupnya dan keindahan yang tak perlu diumbar. Hamparan Azalea akan selalu menjadi penyejuk dikaki pegunungan Yak di Pyongyang. Menjadi kedamaian bagi Korea yang selalu berkonflik dengan saudaranya. Dan kepergianku ke suriah adalah untuk menjadi Azalea yang tidak bisa tumbuh disana..."
Komentar
Posting Komentar